Gelombang Bono Di Sungai Kampar

Gelombang Bono Di Sungai Kampar
Gelombang Bono yang memiliki ketinggian hingga 6 meter dan sering terjadi di Sungai Kampar merupakan fenomena alam yang menakjubkan dan jarang ditemukan pada sungai-sungai lain di berbagai belahan dunia. Gelombang Bono yang kerap muncul di permukaan Sungai Kampar yang berlokasi di Provinsi Riau dan Sumatera Barat ini telah menarik banyak peselancar dunia. Maka tak heran jika kemudian Sungai Kampar kini dipromosikan sebagai destinasi pariwisata dengan atraksi wisata untuk para pemain selancar (Surfing).Sungai Kampar di Riau adalah keajaiban alam di Indonesia. Bukan tanpa sebab, sungai ini punya ombak setinggi hingga 6 meter dengan panjang gelombang mencapai 300 meter. Anda yang punya nyali, silahkan surfing di sini!Kalau biasanya traveler bermain surfing di lautan, tapi berbeda di Desa Pulau Muda yang ada di Kabupaten Palalawan, Riau. Sungai ini justru jadi ajang surfing para peselancar dunia yang punya nyali lebih. Sungai Kampar terkenal dengan Gelombang Bono, yang membentuk ombak dan jadi tantangan berat untuk ditaklukan. Dari informasi pada Situs resmi Pariwisata Indonesia, ombak yang tercipta dari Gelombang Bono tingginya bisa mencapai 4-6 meter. Tak sampai di situ, gelombangnya bisa bergulung-gulung sampai 2 jam dengan kecepatan paling tinggi 40 km/jam. Dahsyat! Bahkan, para peselancar punya julukan tersendiri kepada Gelombang Bono. Mereka menjulukinya dengan nama gelombang tujuh hantu (seven ghost), karena gelombang yang dihasilkan bisa mencapai tujuh lapis berurutan.

Mengapa bisa begitu? Gelombang Bono tercipta dari pertemuan arus sungai dan arus laut. Ditambah dengan angin dan tebing di kanan kirinya, gelombang yang tercipta sangat kuat. Disarankan, peselancar pemula jangan coba-coba bermain di sana.

Tahukah Anda, rupanya peselancar asal Inggris bernama Steven King sudah memecahkan rekor di Sungai Kampar pada tahun 2013 lalu. Dia berselancar sejauh menaklukkan Gelombang Bono di sana sejauh 20,65 kilometer, selama 1 jam 4 menit. Pria ini pun mengagumi kajaiban Sungai Kampar dan punya penilaian tersendiri. “Gelombang Bono adalah ombak yang panjang dan fantastis. Bono berbeda dengan tempat lain, karena letaknya di garis ekuator. Jadi gelombangnya cepat, panjang, dan karakternya sulit. Di Bono itu air sungai, jadi akan sulit mengambang dan berdiri di sana daripada di laut,” ungkap Steven.

Sungai Kampar atau (Batang Kampar) merupakan sebuah sungai di Indonesia, berhulu di Bukit Barisan sekitar Sumatera Barat dan bermuara di pesisir timur Pulau Sumatera Riau. Sungai ini merupakan pertemuan dua buah sungai yang hampir sama besar, yang disebut dengan Kampar Kanan dan Kampar Kiri. Pertemuan ini berada pada kawasan Langgam (Kabupaten Pelalawan), dan setelah pertemuan tersebut sungai ini disebut dengan Sungai Kampar sampai ke muaranya di Selat Malaka. Sementara sekitar kawasan hulu air sungai ini dimanfaatkan untuk PLTA Koto Panjang yang mempunyai kapasitas 114 MW.

Gelombang Bono Sungai Kampar.

Bono adalah gelombang atau ombak yang terjadi di Muara Sungai Kampar, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau, Indonesia. Ombak Bono Sungai Kampar merupakan suatu fenomena alam akibat adanya pertemuan arus sungai menuju laut dan arus laut yang masuk ke sungai akibat pasang. Biasanya ombak atau gelombang hanya terjadi di tepi pantai atau laut ataupun danau yang luas akibat perubahan arus air dan angin. Ombak yang berukuran cukup besar banyak dimanfaatkan untuk bermain selancar. Maka, jika melihat orang berselancar di pantai adalah merupakan suatu hal yang sudah biasa. Tetapi melihat orang berselancar di arus sungai adalah suatu hal yang luar biasa. Bono terbesar biasanya terjadi ketika musim penghujan dimana debit air Sungai Kampar cukup besar yaitu sekitar bulan November dan Desember.

Legenda Gelombang Bono.

Bono ini sebenarnya terdapat di dua lokasi di Provinsi Riau yaitu di Muara (Kuala) Sungai Kampar Kabupaten Pelalawan dan di Muara (Kuala) Sungai Rokan di Kabupaten Rokan Hilir. Masyarakat setempat menyebut Bono di Kuala Kampar sebagai BONO JANTAN karena lebih besar, sedangkan Bono di Kuala Rokan sebagai BONO BETINA karena lebih kecil.

Menurut kepercayaan warga setempat, gelombang bono yang ada di sungai kampar adalah bono jantan, sementara bono betinanya berada di daerah Sungai Rokan, dekat dengan Kota Bagansiapi-api. Bono di kuala kampar tersebut berjumlah tujuh ekor, dimana bentuknya serupa kuda yang biasa disebut dengan induk Bono. Pada musim pasang mati, bono ini akan pergi ke Sungai Rokan untuk menemui bono betina. Kemudian bersantai menuju ke selat Malaka. Itulah sebabnya ketika bulan kecil dan pasang mati, bono tidak ditemukan di kedua sungai tersebut. Jika bulan mulai besar, kembalilah bono ketempat masing-masing, lalu main memudiki sungai Kampar dan sungai Rokan. Semakin penuh bulan di langit, semakin gembira bono berpacu memudiki kedua sungai itu.

Muara Sungai Bono yang disebut penduduk sebagai Kuala Kampar memiliki ombak Bono yang dapat mencapai ketinggian 6 – 10 meter terkandung keadaan pada saat kejadian. Menurut cerita Melayu lama berjudul Sentadu Gunung Laut), setiap pendekar Melayu pesisir harus dapat menaklukkan ombak Bono untuk meningkatkan keahlian bertarung mereka. Hal ini dapat masuk akal karena “mengendarai” Bono intinya adalah menjaga keseimbangan badan, diluar masalah mistis.

Dahulu, karena masih ada sifat mistis di lokasi tersebut, maka untuk mengendarai Bono harus dengan upacara “semah” yang dilakukan pagi atau siang hari. Upacara dipimpin oleh Bomo atau Datuk atau tetua kampung dengan maksud agar pengendara Bono selalu mendapat keselamatan dan dijauhkan dari segala marabahaya. Selain itu ada cerita mistis (mungkin) yang berhubungan dengan gelombang Bono ini yaitu cerita tentang “Banjir Darah Di Mempusun” atau “Mempusun Bersimbah Darah” dan terbentuknya Kerajaan Pelalawan 1822 Masehi.

Sekarang, masyarakat sekitar Kuala Kampar menganggap Bono sebagai “sahabat alam”. Penduduk yang berani akan “mengendarai” Bono dengan sampan mereka tidak dengan menggunakan papan selancar pada umumnya. Mengendarai sampan di atas ombak Bono menjadi suatu kegiatan ketangkasan. Tetapi kegiatan ini memiliki resiko tinggi karena ketika salah mengendarai sampan, maka sampan akan dapat dihempas oleh ombak Bono, tak jarang yang sampannya hancur berkeping-keping.

Ombak Tujuh Hantu.

Masyarakat sekitar memiliki cerita-cerita dongeng yang istimewa terkait dengan adanya gelombang bono tersebut. Ada banyak cerita dan kepercayaan dari masyarakat lokal yang menjadikan peristiwa alam yang langka tersebut kian istimewa. Menurut cerita masyarakat Melayu lama, ombak Bono terjadi karena perwujudan 7 (tujuh) hantu yang sering menghancurkan sampan maupun kapal yang melintasi Kuala Kampar. Ombak besar ini sangat menakutkan bagi masyarakat sehingga untuk melewatinya harus diadakan upacara semah seperti yang telah disebutkan di atas. Ombak ini sangat mematikan ketika sampan atau kapal berhadapan dengannya. Tak jarang sampan hancur berkeping-keping di hantam ombak tersebut atau hancur karena menghantam tebing sungai. Tak sedikit kapal yang diputar balik dan tenggelam akibanya.

Menurut cerita masyarakat, dahulunya gulungan ombak ini berjumlah 7 (tujuh) ombak besar dari 7 hantu. Ketika pada masa penjajahan Belanda, kapal-kapal transportasi Belanda sangat mengalami kesulitan untuk memasuki Kuala Kampar akibat ombak ini. Salah seorang komandan pasukan Belanda memerintahkan untuk menembak dengan meriam ombak besar tersebut. Entah karena kebetulan atau karena hal lain, salah satu ombak besar yang kena tembak meriam Belanda tidak pernah muncul lagi sampai sekarang. Maka sekarang ini hanya terdapat 6 (enam) gulungan besar gelombang ombak Bono.

Tujuh Hantu adalah 7 ombak Bono dengan formasi 1 di depan dan diikuti dengan 6 gelombang di belakangnya. Karena 1 ombak terbesar telah dihancurkan Belanda sehingga ombak Bono besar hanya tersisa 6 ombak dengan formasi hampir sejajar memasuki Kuala Kampar. Mengenai kapal Belanda dan orang-orangnya tidak pernah diketemukan sampai sekarang.

Penjelasan Ilmiah Tentang Terjadinya Gelombang Bono Di Sungai Kampar.

Gelombang Bono atau Ombak Bono atau Bono Wave yang merupakan suatu fenomena alam, secara sederhana dapat disampaikan bahwa terjadinya Ombak Bono adalah pertemuan arus pasang air laut dengan arus sungai dari hulu menuju muara (hilir). Di dalam kajian Lingkungan Mekanika Fluida (Environmental Fluid Mechanics), Bono disebut Tidal bore atau bore/aegir/eagre/eygre. Secara ilmiah, gelombang bono merupakan salah satu peristiwa alam yang cukup langka dan jarang terjadi. Dimana kita akan menyaksikan sebuah gelombang besar yang layaknya terjadi di tengah laut, namun ini terjadi di sebuah sungai air tawar.

Gelombang bono terjadi diakibatkan benturan tiga arus air yang berasal dari Selat Melaka, Laut Cina Selatan dan aliran air Sungai Kampar. Akibat benturan ini, menjadikan gelombang air di muara sungai Kampar bisa mencapai ketinggian 4-5 meter dengan ditandai sebelumnya dengan suara gemuruh yang hebat. Ini merupakan fenomena ilmiah yang akan dipercayai oleh kaum intelektual saja.

Faktor Penyebab Timbulnya Ombak Bono :

  • Aliran air sungai menuju muara
  • Hujan
  • Air pasang
  • Posisi bulan
  • Tinggi rendah kedalaman air
  • Lingkungan hutan sekitas Daerah Aliran Sungai (DAS)

 

 

 

 

 

 

Bulanterbaik untuk mengunjungi Sungai Kampar adalah di awal dan di akhir musim hujan. Sebabnya, saat itulah gelombang Bono akan tinggi. Tepatnya di bulan Februari, Maret, Oktober, dan November. Saat siang dan malam hari, adalah waktu terbaik untuk berselancar di Sungai Kampar.

Ada dua pintu akses ke Kawasan Palalawan, dari Batam bisa menyeberang pakai boat. Satu lagi, dengan mengendarai mobil selama 4 jam dari Pekanbaru. Di sana ada banyak homestay di Desa Meranti. Pihak Kemenparekraf (Kementerian Parwisata dan Ekonomi Kreatif) sudah gencar mempromosikan Sungai kampar kepada dunia. Flyinc.

Leave a Reply